Membedah Beda Penanganan Jalan Amblas di GDC Depok dan Gubeng Surabaya

Membedah Beda Penanganan Jalan Amblas di GDC Depok dan Gubeng Surabaya

Depok – Perbaikan Jalan Boulevard di kawasan Grand Depok City (GDC), Kota Depok, Jawa Barat, yang amblas diperkirakan memakan waktu 2 bulan setelah proses lelang. Waktu perbaikan itu berbeda dengan Jalan Raya Gubeng, Surabaya, Jawa Timur, yang hanya dalam hitungan hari.

Pakar perkotaan Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna, membedah soal perbedaan waktu penanganan jalan amblas di GDC Depok dengan Jalan Gubeng di Surabaya. Pertama, yang dijelaskan Yayat adalah soal Pemkot Surabaya yang dinilai memiliki dana taktis sehingga cepat menangani perbaikan jalan amblas.

“Kalau yang di Gubeng itu mungkin itu darurat ya, karena berada di jalan utama kota. Implikasinya mungkin mereka punya dana kebencanaan, dalam arti dana taktis operasionalnya. Itu tergantung pada masing-masing daerah sebetulnya, bagaimana untuk mengantisipasi masalah tersebut,” kata Yayat kepada wartawan, Rabu (14/4/2021).

Yayat juga menilai, saat jalan amblas di Gubeng, Surabaya, ada juga bertanggung jawab dari pemilik proyek. Sehingga soal dana perbaikan Jalan Gubeng tercukupi, yang berimplikasi kepada cepatnya waktu perbaikan.

“Artinya, dana taktis pertama dikeluarkan pemerintah kota, nanti ada kompensasi yang harus diselesaikan oleh si pengembang sebagai pemilik proyeknya. Jadi kerusakan jalan itu karena kegiatan proyek pengembang yang merusak jalan tersebut. Jadi ada semacam perbuatan yang membuat itu rusak, itu ada kewajiban memang harus memberikan ganti rugi,” ujarnya.

Sementara itu, untuk Jalan Boulevard di kawasan GDC, Depok, menurut Yayat, ada keterbatasan menyangkut anggaran sehingga berimplikasi pada waktu perbaikan jalan. Akhirnya, Pemkot Depok menempuh mekanisme lelang terlebih dahulu untuk memperbaiki jalan amblas.

jalan boulevard GDC Depok ambles

“Nah, kalau yang di Depok, ini longsornya alami ya, bencana alam, karena hujan. Ada kemungkinan lamanya itu, satu, mungkin dananya itu tidak ada di pos anggaran, atau perubahan, atau kemungkinan jalan itu sebenarnya sudah direncanakan untuk diperbaiki, tetapi tiba-tiba ada bencana alam sehingga prosesnya mengikuti mekanisme yang sudah ada, harus ikut lelang dulu,” ucap Yayat.

“Atau memang karena tidak ada taktis yang mungkin tidak dicadangkan, apalagi di tengah pandemi COVID-19 ini anggaran pemerintah daerah itu sudah kembang kempis, jadi nggak bisa, ‘Oh ini masuk kategori bencana alam atau bukan’. Kalau bencana alam, ada dana taktis yang bisa dimanfaatkan, tapi kalau ini perusakan jalan, kemungkinan dananya dana pemeliharaan jalan yang dipakai,” sambungnya.

Lantas, apakah ada perbedaan kepekaan antara Pemkot Depok dan Pemkot Surabaya dalam perbaikan jalan? Yayat menjelaskan awal mula terbentuknya Kota Surabaya dan Depok.

“Kalau Surabaya itu, kota yang memang sudah lama ada, jadi perencanaan jalannya mungkin sudah lebih terstruktur, perencanaannya, pemeliharaannya, dan Surabaya itu ibu kota provinsi. Nah, kalau Depok ini dia memang bukan kota yang direncanakan sejak awal, dia hanya kecamatan dari awal jadi kota administratif, yang statusnya naik menjadi kota otonom,” ucapnya.

Menurut Yayat, di Depok jalan lebih didominasi oleh jalan berukuran kecil namun dengan beban perkotaan yang cukup besar. Perkembangan jalan di Depok, akhirnya seturut dengan perkembangan kota tersebut.

“Dulu dia maju berkembang karena ada perumnas di situ. Nah, jadi jaringan jalan di sana itu jaringan jalan yang tumbuh kembang bersamaan dengan pertumbuhan kota itu. Jadi banyak jalan di sana itu jalan lokal, jalan kelurahan, atau jalan desa yang terbebani beban perkotaan gitu,” imbuhnya.

Seperti diketahui, perbaikan Jalan Boulevard di kawasan GDC, Kota Depok, yang amblas diperkirakan memakan waktu 2 bulan setelah proses lelang. Kejadian serupa pernah terjadi di Jalan Raya Gubeng, Surabaya, Jawa Timur.

Namun perbaikan Jalan Gubeng di ibu kota Jawa Timur itu tidak sampai 10 hari. Setelah jalan amblas dan memunculkan ‘jurang’, Jalan Gubeng telah dapat dilintasi kendaraan pada Kamis, 27 Desember 2018.

Jalan Gubeng amblas pada Selasa, 18 Desember 2018. Amblasnya Jalan Gubeng diduga diawali ambruknya crane di dekat Rumah Sakit Siloam Surabaya di Jalan Gubeng.

Amblasnya jalan diketahui merupakan imbas dari pembangunan basement RS Siloam Surabaya. Polisi pun melakukan penyidikan dan menetapkan enam tersangka. Mereka kemudian dibawa ke meja hijau dan divonis bebas.

 

Berita ini diambil dari Detikcom

Terima Kasih,

Hamzah Centre

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *